Analisa Kredit Korporasi

Pada saat bank menawarkan fasilitas kredit kepada nasabah korporat, bank harus mempertimbangkan kemampuan perusahaan dalam membayar kembali kredit tersebut. Pendekatan tradisional memfokuskan analisis pada kinerja finansial perusahaan. Hal ini disebut analisis kredit

Teknik yang dipakai dalam melakukan analisis kredit berasal dari teknik untuk menganalisis saham yang umumnya dilakukan oleh industri manajemen investasi. Penggunaan financial ratio analysis (analisis rasio keuangan) sebaagi dasar pengembangan model untuk pengambilan keputusan pemberian kredit, sangat lazim digunakan.

Analisis kredit korporasi biasanya fokus pada data keuangan 3 tahun terakhir. Hasil analisis akan dilihat lebih jauh untuk melihat kecenderungan kinerja kedepan (membaik atau memburuk) yang berguna dalam mengambil keputusan pemberian kredit.

Elemen-elemen yang penting dalam melakukan analisis keuangan adalah laporan keuangan perusahaan, yaitu:

      Neraca (balance sheet)

      Laporan laba rugi (profit and loss account/ income statement)

      Laporan arus kas (cash flow statement)

      Laporan pajak (tax statement)

Beberapa rasio yang sering dipergunakan dalam analisis kredit korporasi adalah:

Kinerja Operasional Pendapatan bersih dibagi kekayaan bersih dan penjualan dibagi aktiva tetap
Kemampuan Membayar Aliran kas dibagi bunga pinjaman
Financial Gearing (Leverage) Pinjaman jangka panjang dibagi modal
Likuiditas Aktiva lancar dibagi kewajiban lancar
About these ads

4 responses to “Analisa Kredit Korporasi

  1. Salam kenal mas Andri, sy cukup mengikuti tulisan-tulisan yg anda buat.. ada bbrp hal yg menjd pertanyaan saya terkait analisi kredit (maklum sy awam terhadap kredit)
    1. Apakah analisis terhadap korporasi ini bs jg diterapkan utk selain itu (SME, Koperasi)
    2. lalu apa yg dimaksud dgn CAR, ROA, ROE, GERING RATIO dan BAD DEBT RATIO serta penerapannya
    3. kira-kira mas andri punya saran literatur apa yg bisa sy baca utk dpt mempelajari kredit dgn baik (sy ditawari utk bekerja di bid kredit, bid yg belum pernah/jarang sy pelajari)

    • terimakasih atas pertanyaannya dan salam kenal juga mas alfas
      1. analisa ini bisa saja diterapkan untuk SME namun saya kira yang paling penting adalah perhitungan kebutuhan modal kerjanya harus detil, sedangkan untuk koperasi hampir sama namun terdapat faktor penilaian tingkat kesehatan koperasi dari dinas koperasi setempat, minimal sehat biar aman
      2. CAR adalah rasio kecukupan modal (modal/ATMR) CAR yang aman minimal 8%, ROA adalah laba bersih dibandingkan dengan total asset, ROE adalah laba bersih dibandingkan dengan ekuitas/modal, gearing ratio adalah rasio yang memperhitungkan seberapa besar penggunaan hutang didalam suatu perusahaan, perusahaan yg mempunyai GR yang tinggi biasanya perbankan dan multifinance, bad debt ratio adalah rasio yang mengukur tingkat kesehatan kredit di suatu perusahaan, BDR yang tinggi kemungkinan kualitas kredit suatu perusahaan tsb akan jelek
      3. untuk literatur sebenarnya ada beberapa, seperti buku karangan pak Jopie Jusuf, dll, yg paling baik memang pelatihan internal di bank/lembaga tsb
      terima kasih

  2. abdul gani hamdani

    dear Pak Andri,,
    1. saya mau tanya,,definisi yang tepat untuk kredit mikro,kecil, menengah, besar dan korporasi apa ya?
    2. apa bedanya kredit besar dan kredit korporasi?

    regards
    Danny

  3. yang membedakan hanya kelas asetnya dan hasil penjualan per tahunnya
    Usaha Mikro (Menurut Keputusan Menkeu No. 40/KMK.06/2003, tentang Pendanaan Kredit Usaha Mikro dan Kecil):
    •Usaha produktif milik keluarga atau perorangan Warga Negara Indonesia;
    •Memiliki hasil penjualan paling banyak Rp. 100 juta per tahun.

    Usaha Kecil (Menurut UU No. 9/1995, tentang Usaha Kecil):
    •Usaha produktif milik Warga Negara Indonesia, yang berbentuk badan usaha orang orang perorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum, atau badan usaha berbadan hukum termasuk koperasi;
    •Bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau berafiliasi, baik langsung maupun tidak langsung, dengan Usaha Menengah atau Besar;
    •Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 200 juta, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, atau memiliki hasil penjualan paling banyak Rp. 100 juta per tahun.
    Berdasarkan Kepmenkeu 571/KMK 03/2003 (Menterinya masih Pak Boediono) maka pengusaha kecil adalah pengusaha yang selama satu tahun buku melakukan penyerahan barang kena pajak dan atau jasa kena pajak dengan jumlah peredaran brutto dan atau penerimaan brutto tak lebih dari 600 juta.

    Usaha Menengah (menurut Inpres No. 10/1999, tentang Pemberdayaan Usaha Menengah)
    Usaha produktif milik Warga Negara Indonesia, yang berbentuk badan usaha orang orang perorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum, atau badan usaha berbadan hukum termasuk koperasi;
    Berdiri sendiri, dan bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau berafiliasi, baik langsung maupun tidak langsung, dengan Usaha Besar;
    Memiliki kekayaan bersih lebih besar dari Rp. 200 juta, sampai dengan Rp. 10 miliar, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, atau memiliki hasil penjualan paling banyak Rp. 100 juta per tahun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s